Yang Telah Terlupakan

Sore itu langit begitu mendung, gemuruh awan yang seakan kecewa berselimut jutaan air mata yang ingin ditumpahkan dan berharap akan ada seseorang yang melihatnya. Namun, aku hanya terus memandangi jarum jam yang bergerak kekiri dan semakin membuatku terus terpana memandangnya. Semua hal yang berada disekitarku ingin berkata dan menyuruhku untuk lari secepat mungkin, sebisaku, semampuku, ebelum aku terjebak dalam kemelut hatiku sendiri.

Mungkin suara gerimis diluar sana membuatku tuli dan tak bisa mendengar teriakan darinya yang berharap aku untuk pergi dari tempat itu secepatnya. Tapi tubuhku membeku seketika, rasanya seperti tenggelam didanau es dan membuatku tak mampu berfikir, namun aku teruslah mencoba untuk terus menatap jarum jam yang semakin lama malah semakin cepat berputar kekiri, dan akhirnya petir mulai menyambar dan membuat semua hal yang ada disekelilingku diam, mungkin itu ancaman yang ditujukan padaku.

Perasaan itu tetap menyelimutiku, dia bagaikan sekumpulan lebah yang menyengat tubuhku sehingga aku hanya bisa memandang jarum jam yang perlahan mulai berbalik arah dan bergerak ke kanan, maka dengan sigap aku langsung berlari tanpa memperdulikan apapun yang akan aku hadapi dan apapun yang telah kutinggalkan. Aku berlari dengan air mata yang terus mengalir. Sudah sangat jauh aku berlari namun rasanya aku masih dibayangi oleh suasana itu dan akhirnya hujan pun turun membasahi tubuhku yang tengah berkeringat menahan dahaga.

Aku tersandung dan langsung jatuh ketanah, tubuhku tak mampu bangkit lagi dan aku hanya bisa berkata “aku lelah, aku tak sanggup”, namun hujan itu semakin deras sehingga percikan air hujan yang mengenai tuuhku rasanya bagaikan beribu jarum yang menusuk tubuhku. Maka akupun berlari sekuat tenagaku, berharap aku mampu lari dari kenyataan ini, sehingga aku tiba di bawah pohon yang sangat besar dan rimbun, aku langsung menatap ke langit dan berkata “aku sudah berlari semampuku, sekarang bisakah kau berhenti menyiksaku?”, dan hujan pun berhenti namun aku benar-benar bingung dengan keadaanku yang basah kuyup dan apa arti dari semua ini. Namun saat aku melihat kebelakang, barulah aku menyadari bahwa ternyata aku tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan, tapi dengan menerima kenyataan maka aku tak perlu lari darinya.


 


 


3 thoughts on “Yang Telah Terlupakan

  1. “Namun saat aku melihat kebelakang, barulah aku menyadari bahwa ternyata aku tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan, tapi dengan menerima kenyataan maka aku tak perlu lari darinya.”

    Wah, kata2nya…
    Maknanya mendalam sekali sekaligus mengandung kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s