Suara Minor Untuk Sang Inspirator

Abdur Arsyad

Siapa yang tak kenal dengan sosok diatas, identik dengan logat timur “aduh mama sayangeeeee…” dan orasi nya diatas panggung StandUpComedy membuat dirinya sekarang menjadi dikenang eh maksud Gua dikenal hampir disemua kalangan. Gua salah satu pendukungnya saat masih berkompetisi bukan karena sama-sama dari timur melainkan karena Gua kagum dengan cara dia berfikir, mengolah, mengemas dan menyampaikan setiap materi dan aspirasi tentang keresahan nya (terkadang bisa sangat kena kalo udah masuk ke rana politik). Part lain yang Gua kagumi adalah bagaimana dia melakukan semua sebagai seorang minoritas di depan masyarakat yang mayoritas berbeda secara bahasa bahkan visual (no offense Bro Abdur hehe).

Abdur peserta yang kompleks menurut gua, istilah kasarnya kasih materi atau tema apapun pasti di makan… dan yang bernilai adalah ketika dia mulai meyuarakan “Asik-asik” sejak saat itu juga mata Gua udah gak bisa lepas dari layar flatron. Amazing !! cuma itu yang bisa tergambarkan di benak Gua kalo menyebut nama Abdur dan bahkan Gua gak bisa lupa saat nonton ketika Abdur tampil dan mengangkat materi tentang ‘Kapal Tua” yang akan Gua bahas di tulisan kali ini.

Abdurrahim Arsyad tapi biasa dipanggil Abdur atau kadang anak timur, yang baru saja memenangkan juara ke-2 dalam perebutan kompetisi Stand Up Comedy Indonesia Season 4 yang diselenggarakan oleh KompasTV.

Saat Grand Final Stand Up Comedy Indonesia Season 4, Indonesia kembali harus membuka mata dan telinga lebar-lebar saat satu orang timur mampu membuat Hening kurang lebih 5 menit saat dia menyuarakan tentang “Kapal Tua” bernama Indonesia. Konsisten dalam cara berfikirlah yang Hebat dan Gua acungi jempol, Abdur menampilkan semua dari Pre Show sampai Grand Final, dia menyampaikan tanpa pernah melepaskan esensial dari kesenjangan sosial kadang juga melek akan politik dan hukum bahkan terkadang tentang adanya perbedaan… bahwa kita sebagai orang Indonesia selalu tabu dan selalu memikirkan pencitraan dalam artian memunafikkan diri karena kembali kepada hakikat bahwa setiap insan punya watak baik dan buruk nya, namun bagaimana caranya menutupi yang buruk dengan yang baik dan bukan menutupi yang buruk dengan yang kelihatannya baik tapi sebaliknya.

Udah gak tau lagi mau mendeskripsikan apa tentang orang ini, Teman, Kakak, Saudara, Guru, atau bahkan sang inspirator haha.. harapan terbesar Gua supaya suatu saat di waktu, tempat, kesempatan, dan takdir yang telah ditentukan untuk Gua bisa ketemu sama orang ini… sama Abdur🙂

Nah berikut ini Rima “Kapal Tua” yang Gua kutip dari Blog Abdur langsung :

abdur-suci-4-video

Jaya Indonesia..

Sebagai anak Nelayan dari Lamakera, saya melihat Indonesia itu seperti Kapal Tua, yang berlayar tak tahu arah.

Arahnya ada, hanya Nahkoda kita yang tidak bisa membaca.

Mungkin dia bisa membaca tapi tertutup hasrat membabi buta, hasrat hidupi keluarga, saudara, kolega, dan mungkin istri muda.

Indonesia itu memang seperti Kapal Tua dengan penumpang berbagai rupa,

Ada dari Sumatera, Jawa, Madura, Sumbawa hingga Papua. Bersatu dalam Nusantara.

Enam kali sudah kita ganti Nahkoda tapi masih jauh dari kata “sejahtera”.

Dari dulu, dari teriakkan kata “merdeka” sampai sekarang “folbek dong kakaaaaa”

Nahkoda pertama, Sang Proklamator bersama Hatta,

Membangun dengan semangat Pancasila dan terkenal di kalangan wanita,

Ia pernah berkata mampu guncangkan dunia dengan sepuluh pemuda,

Tapi itukan kurang satu untuk tim sepak bola? Kalo begini kapan baru kita ikut Piala Dunia?

Nahkoda kedua, Sang Jenderal Cendana 32 tahun berkuasa,

Datang dengan program bernama PELITA.

Bapak Pembangunan bagi mereka, bagi saya, tidak ada bedanya. Tidak ada.

Penumpang bersuara berakhir di penjara atau hilang di lautan tanpa berita.

Beda dengan Dodit Mulyanto, hanya modal Biola saja, terkenal di Indonesia.

Nahkoda ketiga, sang wakil yang naik tahta, mewarisi pecah belahnya masa Orba.

Belum sempat menjelajah Samudera, ia terhenti di tahun pertama.

Dibanggakan di Eropa, dipermainkan di Indonesia.

Jerman dapat ilmunya. Kita dapat apa? Antrian panjang nonton filmnya.

Nahkoda selanjutnya, Sang Kyai dengan hati terbuka.

Mendapat gelar Bapak Tionghoa. Mungkin inilah bapaknya Ahok dan Ernest Prakasa.

Ia terhenti dalam sidang Istimewa ketika tokoh-tokoh reformasi berebut Istana.

“Potong Bebek saja! Gitu aja kok repot!” kata Gusdur featuring Ursula.

Nahkoda kelima, Nahkoda pertama seorang wanita.

Dari tangan ibunya, Bendera Pusaka tercipta. Bukan bendera Slank yang berkibar di tiap acara.

Kata bapaknya, “Berikan aku sepuluh pemuda” tapi apa daya,

Itu di luar kemampuan ibu beranak tiga.

Kalau mau sepuluh pemuda, ambil saja dari followers Raditya Dika.

Cemunguuudhh eaa kakaaaaa..

Nahkoda keenam bagian A. Kenapa bagian A? Sengaja, biar tetap pada rima “A”.

Dua Pemilu mengungguli perolehan suara. Dua kali disumpah atas nama Garuda.

Tapi itu hanya awal cerita. Cerita panjangnya terpampang di banyak media.

Lapindo, Munir, Century, Hambalang, kami menolak lupa!

Kini ia telah hadir di sosial media, mungkin bermaksud mengalahkan Raditya Dika.

Setelah empat album yang entah seperti apa, mungkin dia akan membuat film,

Malam Minggu Istana, atau Cinta dalam Kasus Sutan Batugana.

2014 kini telah tiba. Saatnya kita kembali memilih Nahkoda.

Pastikan dia yang mengerti Bhinneka Tunggal Ika, bukan Boneka Milik Amerika.

Dia yang mengerti suara kita, suara kalau Indonesia Bisa!

Bukan suara “aitakata”, “ea ea”, atau “folbek dong kakaaa”

Inilah cerita Kapal Tua kita. Ada yang tidak percaya?

Sudah kalian percaya saja! (alk)

Abdurrahim Arsyad

Twitter : @abdurarsyad 

http://anaklamakera.wordpress.com/

copy-edit1-copy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s